LIKA-LIKU PETANI DI MUSIM TANAM SAAT PANDEMI DAN KEMARAU

LIKA-LIKU PETANI DI MUSIM TANAM SAAT PANDEMI DAN KEMARAU

LIKA-LIKU PETANI DI MUSIM TANAM SAAT PANDEMI DAN KEMARAU

KARANGGLONGGONG, 11 JUNI 2020

Pagi telah membuka hari,dengan segala kesibukanya para Petani mulai mempersiapkan semangat untuk memperjuangkan nasib dengan bertumpu harap pada hasil panen yang melimpah.Semua bergerak dengan dinamis mengkesampingkan peluh biaya dan keringat walau keluh terkadang masih ada dalam mensiasati segala aral yang telah dan akan melintang. Segala daya dan upaya semua tertumpah disitu dan apa itu ESTIMASI? kaum tani tak peduli dengan itu semua dipertaruhkan untuk keberhasilan di tahap awal penanaman.

Bagaimana tidak di era PAMDEMI dengan segala dampaknya  petani dihadapkan dengan musim tanam kedua. walapun terkadang bayangan tak sesuai kenyataan namun musim tanam ke dua sudah terbayang akan satu masalah utama yaitu kelangkaan air. Ditahun tahun lalu kelangkaan air menjadi permasalahan rutin saat musim tanam kedua sama seperti halnya banjir saat musim pertama belum lagi permasalahan lain yang datang dengan beriringan

Dimusim ini kaum tani dihadapkan dengan permasalahan pertama dengan tidak maksimalnya pembibitan pada tanaman padi yang disebabkan karena beberapa hal antara lain terendam air yang diakibatkan curah hujan yang ternyata masih banyak disini beberapa petani sudah berusaha dengan teknik TAWU yaitu dengan menguras papan persemaian yang terendam menggunakan ember. masalah yang kedua yaitu belalang dan keong mas dan ini jugaa sudah di tangani dengaaa yang mengn pemberian insektisida dan racun ada juga yang mengambil keong tersebut dengan cara manual untuk makanan unggas. Dan pada akhirnya 98% lahan persawahan di wilayah karangglonggong telah tertanami padi.

Dan permasalahan belum selesai disitu,saat ini mayoritas tanaman padi yang telah ditanam rusak dimakan keong mas dan untuk mengembalikan tanaman padi tersebut harus diganti dengan bibit tanaman yang baru    ( TANJANG ) namun untuk menggantikanya membutuhkan biaya yang mungkin tidak sedikit karena saat ini untuk mendapatkan satu ikat benih petani harus mengganti dengan uang sebesar RP 7.000,00 yang untuk menanami luasan 50 ubin membutuh kan bibit kurang lebih sebanyak 60 ikat. Bisa dihitung berapa kebutuhan uang yang harus dipersiapkan Petani.

Belum selesai disitu kelangkaan pupuk juga menjadi permasalahan petani saat ini. seperti halnya banjir di musim penghujan kekeringan saat kemarau dan kelangkaan pupuk ditiap musim tanam, Harga Padi yang terbilang rendah adalah paradigma yang terus membayangi benak petani.

Bukan bermaksud menyalahkan namun apakah ini sudah yang terbaik bagi para BIJAK? Karena ini semua bagaikan mata rantai yang saling terkait dan berhubungan. 

Jika semua kendala ini diakibatkan kesalahan dari pola petani maka dimana kehadiran pembuat sistem dipermasalahan ini.

 

 

 

Bagikan :

Tambahkan Komentar Ke Twitter

Arsip Berita

Statistik Pengunjung